Wednesday, June 08, 2005

 

Sepi, Public Hearing Balon Rektor UPI

*Asmawi: Panitia Tetap Netral

SETIABUDHI-Public hearing bakal calon rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mulai berlangsung kemarin kurang diminati sivitas akademik kampus yang identik dengan Villa Isola tersebut. Balai Pertemuan UPI dan Auditorium JICA yang dijadikan tempat berlangsungnya acara tersebut tidak sampai terisi penuh. Terutama di Balai Pertemuan, pengunjung tidak sampai memenuhi setengah dari kapasitas gedung tersebut.
“Saya bergembira, acara dapat berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Tidak ada hambatan yang mengganggu jalannya acara hari ini. Memang, audiens tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maklum, ini hari pertama. Lagi pula, kami tidak meliburkan jadwal kuliah,” kata Prof. Dr. Asmawi Zainul M.Ed., ketua pemilihan rektor UPI, kemarin.
Kepada wartawan Asmawi mengaku, pihaknya telah melakukan sosialisasi cukup maksimal. Untuk keperluan itu, panitia memasang 18 spanduk dan dua buah baligo. Selain itu, pihaknya juga telah menyebarkan undangan kepada sejumlah pimpinan lembaga untuk menghadiri public hearing.
Asmawi juga mengaku telah menghimbau kepada anggota Senat Akademik (SA) untuk menghadiri pemaparan kertas kerja balon rektor. Memang, panitia tidak mewajibkan kehadiran SA di forum tersebut. Pasalnya, setelah menyerap aspirasi dari stake holder UPI, para balon juga akan memaparkan hal yang sama di hadapan anggota SA. Lembaga normatif inilah yang kemudian akan menyaring tujuh balon rektor menjadi tiga sampai lima calon untuk diajukan kepada MWA.
Menanggapi nada miring Forum Peduli Masa Depan (FPMD) UPI mengenai keberadaan anggota SA dalam panitia pemilihan rektor, Asmawi menagaskan, panitia akan tetap netral. Ketua SA UPI ini menolak anggapan kemungkinan terjadinya conflict of interest dalam proses pemilihan tersebut.
“Anggota SA yang menjadi panitia pemilihan tidak berarti mengugurkan haknya sebagai SA. Sebagai panitia, dia netral. Sebagai SA dia memiliki satu hak suara. Saya hanya memiliki satu hak suara. Itu pun kalau saya gunakan. Ketua SA tidak memiliki kewenangan untuk memerintahkan anggotanya untuk memilih calon tertentu dalam pemilihan rektor,” tegas Asmawi.
Mengani adanya pernyataan ihwal tidak demokratisnya pemilihan rektor UPI, pria yang seluruh rambutnya sudah memutih ini menjawab dengan nada tinggi. “Kalau begitu demokratis apa lagi? Seluruh rangkaian pemilihan telah dilakukan secara transparan. Kalaupun ada yang berkeinginan melalui media lain itu silahkan saja. Kami tidak mengenal adanya kampanye curi start,” lanjut Asmawi.
Saat berbicara kepada wartawan di ruang rapat gedung Program Pasca Sarjana (PPS) UPI kemarin, Asmawi menjelaskan, acara yang dilakukannya tidak bisa diartikan sebagai kampanye. UPI, kata Asmawi, bukan lembaga politik. Karena itu, public hearing merupakan medium penyerapan aspirasi, bukan kampanye. Dan, aspirasi tersebut diserap, bukan disampaikan dalam bentuk pemungutan suara.(njp)

[Sebelumnya naskah ini dimuat di Harian Pagi Radar Bandung, harian lokal milik Jawa Pos Grup, pada 18 Mei 2005]
Comments: Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?