Wednesday, June 08, 2005
Amung, Hamid, Sunaryo Melaju ke "Final"
# Unjuk Rasa dan Pengusiran Warnai Sidang SA UPI
SETIABUDHI-Seperti yang banyak diduga sejumlah kalangan, akhirnya sidang Senat Akademik (SA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang digelar kemarin menetapkan tiga pejabat UPI untuk melaju ke fase berikutnya pemilihan rektor UPI periode 2005-2010. Ketiga orang tersebut masing-masing Pembantu Rektor I UPI Prof. Dr. Said Hamid Hasan, MA, Pembantu Rektor II UPI Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., dan Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Dr. Amung Ma'mun, M.Pd.
Hamid dan Sunaryo mengantongi suara yang sama, masing-masing 17 suara. Sementara Amung hanya berhasil menggaet satu suara dari 35 orang anggota SA yang memiliki hak suara. Tiga anggota SA yang tidak memiliki hak suara merupakan bakal calon rektor (balon) rektor itu sendiri. Prof. Dr. Sutjipto, rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang dinilai sejumlah kalangan memiliki kapabilitas untuk memimpin UPI lima tahun ke depan ikut terpental bersama empat kandidat lainnya.
Sidang SA yang dimulai sekitar pukul 08:00 ini juga sempat diwarnai pengusiran terhadap dua orang dosen yang hendak mengikuti jalannya sidang SA. Johar Permana dan Surya Dharma, dua orang yang semat diusir ketua panitia pemilihan rektor UPI Prof. Dr. Asmawi Zainul, M.Ed mengaku tidak mempermasalahkan pengusiran itu. Kedatangannya ke Gedung Bumi Siliwangi karena dirinya mengetahui sidang SA tersebut terbuka untuk umum.
Asmawi yang memberikan keterangan kepada wartawan seusai sidang mengatakan, pengusiran kepada dua orang dosen didasarkan pada asas keadilan. Ruang sidang yang sempit, kata Asmawi, tidak memungkinkan untuk menampung lebih banyak manusia. Karena itu, pihaknya tidak mengundang unsur lain di luar anggota SA dan balon rektor.
Ketika disinggung alasan penggunaan ruang rapat yang terbilang sempit, Asmawi berkilah, ruang tersebut merupakan tempat yang sangat bersejarah di UPI. Selain hampir setiap keputusan penting UPI ditetapkan di sana, ruang berbentuk lonjong di lantai empat Gedung Bumi Siliwangi tersebut sempat dijadikan "pengungsian" mahasiswa dan sejumlah dosen saat berkecamuknya politik di akhir Orde Lama.
"Ini pemilihan rektor pertama UPI oleh SA, momen yang sangat bersejarah. Jadi, harus dilaksanakan di tempat bersejarah. Selama ini, semua keputusan penting di UPI diputuskan di tempat ini," kata Asmawi yang juga salah seorang guru besar di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI ini.
Kepada wartawan Asmawi menjelaskan, proses pemilihan berjalan lancar sesuai rencana. Dia menilai setiap anggota SA memberikan apresiasi obyektif terhadap enam kandidat yang kemarin memaparkan kertas kerjanya. Sementara Mukhidin, seorang balon rektor yang tidak hadir, tidak ada pembacaan terhadap kertas kerja yang bersangkutan.
"Pemilihan dilakukan secara 'one man one vote'. Jadi, walaupun setiap anggota SA memberikan apresiasi positif, namun mereka tetap harus menentukan satu nama untuk dipilih," terang Asmawi.
Menurut Asmawi, tiga calon rektor hasil sidang SA akan disampaikan kepada Majelis Wali Amanat (MWA) UPI dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam surat tersebut akan dilampirkan surat keputusan (SK) SA mengenai tiga nama calon rektor. Dalam berkas yang sama, SA juga akan melampirkan berita acara penetapan calon. Asmawi mengaku belum bisa memastikan kapan waktu penyerahan tersebut.
Mengacu kepada jadwal yang ditetapkan semula, pemilihan rektor oleh MWA akan dilangsungkan 6-8 Juni mendatang. Dengan demikian, semestinya penyerahan calon rektor sebelum waktu tersebut. Namun, Asmawi memprakirakan, sidang MWA akan diundur. MWA sendiri, lanjut dia, diprakirakan baru akan melangsunkan sidang pada 20 Juni mendatang. Padahal, jadwal semula menetapkan, 15 Juni merupakan pelantikan rektor UPI terpilih.
"Yang menetapkan tempat dan waktu pemilihan rektor adalah ketua MWA. Kami tidak tahu apakah pemilihan dilakukan di Bandung atau di Jakarta. Kalau UGM, ITB, USU di Jakarta. Ini terkait dengan keanggotaan Menteri Pendidikan Nasional. Meski begitu, kami sebenarnya pemilihan dilakukan di gedung yang juga memiliki sejarah (Bumi Siliwangi, red)," kata Asmawi.
Menanggapi hasil pemilihan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPI menegaskan kembali sikapnya untuk menolak hasil pemilihan balon rektor menjadi calon rektor oleh SA. Beberapa saat setelah sidang berlangsung, Ketua BEM UPI dan sejumlah pengurus lainnya menggelar unjuk rasa di depan pintu masuk Gedung Bumi Siliwangi. Sejumlah petugas keamanan dan anggota Menwa UPI terlihat mengawasi aksi yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut.
"Aksi yang kami gelar ingin kembali menegaskan penolakan mahasiswa UPI terhadap proses pemilihan rektor UPI. Ketika muncul tiga nama, kami tidak mempermasalahkan hal itu. Kami menolak mekanisme pemilihan yang tidak demokratis. Konsekuensinya, kami akan menolak kebijakan rektor hasil pemilihan SA dan MWA," tandas Agus Salim, Ketua BEM UPI.
Sementara itu, Forum Peduli Masa Depan (FPMD) UPI yang setia menunggu jalannya sidang SA mengakui mulai munculnya obyektivitas dalam pemilihan calon rektor oleh SA. Kemunculan suara kembar antara Hamid dan Sunaryo sendiri menunjukkan lekatnya nuansa pertarungan antara dua kubu kekuasaan di UPI.
"Obyektivitas calon memang tidak jadi ukuran. Di sini, tampak kepentingan politik lebih dominan ketimbang obyektivitas itu sendiri. Sementara keluarnya calon dari dalam, saya kira hal itu terjadi di semua perguruan tinggi BHMN," kata Iik Nurulpaik.
Menanggapi alasan pemilihan tempat berlangsungnya sidang, juru bicara FPMD ini menilai, hal itu mengada-ada. Alasan historik, kata Iik, sungguh tidak kredibel. Padahal, jika benar SA mengusung semangat demokratis dan transparansi, maka tidak akan terjadi pengusiran karena alasan sempitnya ruangan.(njp)
[Sebelumnya naskah ini dimuat di Harian Pagi Radar Bandung, harian lokal milik Jawa Pos Grup, pada 27 Mei 2005]
SETIABUDHI-Seperti yang banyak diduga sejumlah kalangan, akhirnya sidang Senat Akademik (SA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang digelar kemarin menetapkan tiga pejabat UPI untuk melaju ke fase berikutnya pemilihan rektor UPI periode 2005-2010. Ketiga orang tersebut masing-masing Pembantu Rektor I UPI Prof. Dr. Said Hamid Hasan, MA, Pembantu Rektor II UPI Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., dan Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Dr. Amung Ma'mun, M.Pd.
Hamid dan Sunaryo mengantongi suara yang sama, masing-masing 17 suara. Sementara Amung hanya berhasil menggaet satu suara dari 35 orang anggota SA yang memiliki hak suara. Tiga anggota SA yang tidak memiliki hak suara merupakan bakal calon rektor (balon) rektor itu sendiri. Prof. Dr. Sutjipto, rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang dinilai sejumlah kalangan memiliki kapabilitas untuk memimpin UPI lima tahun ke depan ikut terpental bersama empat kandidat lainnya.
Sidang SA yang dimulai sekitar pukul 08:00 ini juga sempat diwarnai pengusiran terhadap dua orang dosen yang hendak mengikuti jalannya sidang SA. Johar Permana dan Surya Dharma, dua orang yang semat diusir ketua panitia pemilihan rektor UPI Prof. Dr. Asmawi Zainul, M.Ed mengaku tidak mempermasalahkan pengusiran itu. Kedatangannya ke Gedung Bumi Siliwangi karena dirinya mengetahui sidang SA tersebut terbuka untuk umum.
Asmawi yang memberikan keterangan kepada wartawan seusai sidang mengatakan, pengusiran kepada dua orang dosen didasarkan pada asas keadilan. Ruang sidang yang sempit, kata Asmawi, tidak memungkinkan untuk menampung lebih banyak manusia. Karena itu, pihaknya tidak mengundang unsur lain di luar anggota SA dan balon rektor.
Ketika disinggung alasan penggunaan ruang rapat yang terbilang sempit, Asmawi berkilah, ruang tersebut merupakan tempat yang sangat bersejarah di UPI. Selain hampir setiap keputusan penting UPI ditetapkan di sana, ruang berbentuk lonjong di lantai empat Gedung Bumi Siliwangi tersebut sempat dijadikan "pengungsian" mahasiswa dan sejumlah dosen saat berkecamuknya politik di akhir Orde Lama.
"Ini pemilihan rektor pertama UPI oleh SA, momen yang sangat bersejarah. Jadi, harus dilaksanakan di tempat bersejarah. Selama ini, semua keputusan penting di UPI diputuskan di tempat ini," kata Asmawi yang juga salah seorang guru besar di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI ini.
Kepada wartawan Asmawi menjelaskan, proses pemilihan berjalan lancar sesuai rencana. Dia menilai setiap anggota SA memberikan apresiasi obyektif terhadap enam kandidat yang kemarin memaparkan kertas kerjanya. Sementara Mukhidin, seorang balon rektor yang tidak hadir, tidak ada pembacaan terhadap kertas kerja yang bersangkutan.
"Pemilihan dilakukan secara 'one man one vote'. Jadi, walaupun setiap anggota SA memberikan apresiasi positif, namun mereka tetap harus menentukan satu nama untuk dipilih," terang Asmawi.
Menurut Asmawi, tiga calon rektor hasil sidang SA akan disampaikan kepada Majelis Wali Amanat (MWA) UPI dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam surat tersebut akan dilampirkan surat keputusan (SK) SA mengenai tiga nama calon rektor. Dalam berkas yang sama, SA juga akan melampirkan berita acara penetapan calon. Asmawi mengaku belum bisa memastikan kapan waktu penyerahan tersebut.
Mengacu kepada jadwal yang ditetapkan semula, pemilihan rektor oleh MWA akan dilangsungkan 6-8 Juni mendatang. Dengan demikian, semestinya penyerahan calon rektor sebelum waktu tersebut. Namun, Asmawi memprakirakan, sidang MWA akan diundur. MWA sendiri, lanjut dia, diprakirakan baru akan melangsunkan sidang pada 20 Juni mendatang. Padahal, jadwal semula menetapkan, 15 Juni merupakan pelantikan rektor UPI terpilih.
"Yang menetapkan tempat dan waktu pemilihan rektor adalah ketua MWA. Kami tidak tahu apakah pemilihan dilakukan di Bandung atau di Jakarta. Kalau UGM, ITB, USU di Jakarta. Ini terkait dengan keanggotaan Menteri Pendidikan Nasional. Meski begitu, kami sebenarnya pemilihan dilakukan di gedung yang juga memiliki sejarah (Bumi Siliwangi, red)," kata Asmawi.
Menanggapi hasil pemilihan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPI menegaskan kembali sikapnya untuk menolak hasil pemilihan balon rektor menjadi calon rektor oleh SA. Beberapa saat setelah sidang berlangsung, Ketua BEM UPI dan sejumlah pengurus lainnya menggelar unjuk rasa di depan pintu masuk Gedung Bumi Siliwangi. Sejumlah petugas keamanan dan anggota Menwa UPI terlihat mengawasi aksi yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut.
"Aksi yang kami gelar ingin kembali menegaskan penolakan mahasiswa UPI terhadap proses pemilihan rektor UPI. Ketika muncul tiga nama, kami tidak mempermasalahkan hal itu. Kami menolak mekanisme pemilihan yang tidak demokratis. Konsekuensinya, kami akan menolak kebijakan rektor hasil pemilihan SA dan MWA," tandas Agus Salim, Ketua BEM UPI.
Sementara itu, Forum Peduli Masa Depan (FPMD) UPI yang setia menunggu jalannya sidang SA mengakui mulai munculnya obyektivitas dalam pemilihan calon rektor oleh SA. Kemunculan suara kembar antara Hamid dan Sunaryo sendiri menunjukkan lekatnya nuansa pertarungan antara dua kubu kekuasaan di UPI.
"Obyektivitas calon memang tidak jadi ukuran. Di sini, tampak kepentingan politik lebih dominan ketimbang obyektivitas itu sendiri. Sementara keluarnya calon dari dalam, saya kira hal itu terjadi di semua perguruan tinggi BHMN," kata Iik Nurulpaik.
Menanggapi alasan pemilihan tempat berlangsungnya sidang, juru bicara FPMD ini menilai, hal itu mengada-ada. Alasan historik, kata Iik, sungguh tidak kredibel. Padahal, jika benar SA mengusung semangat demokratis dan transparansi, maka tidak akan terjadi pengusiran karena alasan sempitnya ruangan.(njp)
[Sebelumnya naskah ini dimuat di Harian Pagi Radar Bandung, harian lokal milik Jawa Pos Grup, pada 27 Mei 2005]
